Alunan biola membuat para penonton hening dan menghayati alunan biolaku. Aku mengalun biolaku sesuai nada. Dan gesekan biola selesai. Para penonton bertepuk kencang. Tidak sia-sia aku belajar biola dengan sungguh-sungguh batinku dalam hati. Namaku Lilyana Marinda Amy. Aku seorang pemain biola yang terkenal. Aku sering dipanggil oleh orang Lily. Walaupun terkenal aku tidak mempunyai ayah lagi. Aku meneruskan bakat ayahku. Ayahku jago bermain biola. Yang ada hanya Kakak dan Bunda. Nama Kakakku Silacia Merinda Fazila. Kak Lacia, itu panggilannya. Walaupun orang-orang menyukaiku, ada satu orang yang paling aku kenal dan ia tidak menyukaiku jika bermain biola, Kak Lacia. Aku turun dari panggung aku mencari Bunda. Tapi hanya ada Kak Lacia.
"Lily, Bunda menyuruhku untuk menjemputmu," ujar Kak Lacia.
"Oke," aku mengikuti Kak Lacia. Aku dan Kak Lacia menaiki mobil pribadi.
"Kamu masih aja main biola kapan selesainya sih," gerutu Kak Lacia.
"Tapikan aku meneruskan bakat almarhum ayah," aku tidak mau kalah. Wajah Kak Lacia langsung muram. Kenapa? apa yang terjadi dengan Kak Lacia.
"Kakak kenapa?" tanyaku.
"Maafin Kakak ya, Ayah dulu memang berbakat dengan biolanya sampai di satu pertunjukan ayah gagal mengalun musik yang tepat. Lalu Ayah menyuruh Kakak untuk meneruskan bakat Ayah. Aku berusaha. Tapi hasilnya nihil. Akhirnya kamu yang dapat memainkan lagu itu," cerita Kak Lacia. Ia menceritakan dengan jujur.
"Tapi Kakak hebat berbeda dari Kakak lainnya, hanya Kakak yang mau jemput Lily konser, yang bantuin Lily belajar masak, dan yang bantuin Lily belajar. Aku ingin menjadi terkenal karena ingin memotifasi Kakak," ucapku. Kak Lacia memandangku. Kak Lacia memelukku. Air matanya menetes. Aku memeluk Kak Lacia.
Dirumah Kak Lacia menonton TV. Bunda sedang pergi. Dijalan tiba-tiba ada kecelakaan.
"Kak, siapa yang jadi korban?" tanyaku. Kak Lacia menangis lagi.
"BUNDA," katanya. Aku menangis sepanjang hari. Sekarang hanya ada aku dan Kak Lacia. Mataku bengkak karena menangis seharian.
Tok tok tok. Kak Lacia mengetuk kamarku.
Krrekk. Aku membuka pintu kamarku.
"Maafin Kakak ya selama ini, sekarang kita hanya berdua Kakak akan menjadi yang terbaik untuk Lily," kata Kak Lacia. Aku terbelak, baru kali ini aku mendengar Kak Lacia berbicara seperti ini.
"Iya, Kak, maafin Lily juga ya," aku memeluk Kak Lacia.
"Iya Lily," jawab Kak Lacia. Rumah hanya terdengar dengan tangisan aku dan Kak Lacia.
"Lily, Bunda menyuruhku untuk menjemputmu," ujar Kak Lacia.
"Oke," aku mengikuti Kak Lacia. Aku dan Kak Lacia menaiki mobil pribadi.
"Kamu masih aja main biola kapan selesainya sih," gerutu Kak Lacia.
"Tapikan aku meneruskan bakat almarhum ayah," aku tidak mau kalah. Wajah Kak Lacia langsung muram. Kenapa? apa yang terjadi dengan Kak Lacia.
"Kakak kenapa?" tanyaku.
"Maafin Kakak ya, Ayah dulu memang berbakat dengan biolanya sampai di satu pertunjukan ayah gagal mengalun musik yang tepat. Lalu Ayah menyuruh Kakak untuk meneruskan bakat Ayah. Aku berusaha. Tapi hasilnya nihil. Akhirnya kamu yang dapat memainkan lagu itu," cerita Kak Lacia. Ia menceritakan dengan jujur.
"Tapi Kakak hebat berbeda dari Kakak lainnya, hanya Kakak yang mau jemput Lily konser, yang bantuin Lily belajar masak, dan yang bantuin Lily belajar. Aku ingin menjadi terkenal karena ingin memotifasi Kakak," ucapku. Kak Lacia memandangku. Kak Lacia memelukku. Air matanya menetes. Aku memeluk Kak Lacia.
Dirumah Kak Lacia menonton TV. Bunda sedang pergi. Dijalan tiba-tiba ada kecelakaan.
"Kak, siapa yang jadi korban?" tanyaku. Kak Lacia menangis lagi.
"BUNDA," katanya. Aku menangis sepanjang hari. Sekarang hanya ada aku dan Kak Lacia. Mataku bengkak karena menangis seharian.
Tok tok tok. Kak Lacia mengetuk kamarku.
Krrekk. Aku membuka pintu kamarku.
"Maafin Kakak ya selama ini, sekarang kita hanya berdua Kakak akan menjadi yang terbaik untuk Lily," kata Kak Lacia. Aku terbelak, baru kali ini aku mendengar Kak Lacia berbicara seperti ini.
"Iya, Kak, maafin Lily juga ya," aku memeluk Kak Lacia.
"Iya Lily," jawab Kak Lacia. Rumah hanya terdengar dengan tangisan aku dan Kak Lacia.